RENUNGAN UMUR MANUSIA

workDan apakah kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun. (QS. Fathir [35]:37)

KETERANGAN

“Dan apakah Kami tidak  memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan?” Kata Ibnu Katsir dalam menafsiri ayat ini, Tidakkah kamu telah hidup di dunia dengan umur yang panjang? Sekiranya kamu termasuk orang yang mengambil manfaat dari kebenaran, tentulah kamu telah mengambil manfaat dari kebenaran itu semasa hidup di dunia.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Nabi SAW, bersabda:

“Allah telah memberikan kesempatan kepada seorang hamba yang Dia beri kehidupan hingga mencapai enam puluh atau tujuh puluh tahun. Sungguh Allah telah sangat cukup memberi kesempatan kepada orang itu, Allah telah sangat cukup member kesempatan kepada orang itu” (HR. Ahmad)

Dalam riwayat lain Nabi SAW bersabda:

“(Pada umumnya) umur umatku itu antara enam puluh dan tujuh puluh tahun. Sedikit sekali dari mereka yang melampaui umur itu” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah”)

Manusia pada umumnya suka menunda kepentingan hidup di akhirat, yang mudah nanti kalau sudah tua, yang tua nanti kalau sudah sakit. Padahal kalau sudah tua semua menjadi lemah, tenaga berkurang akan membuat semangat juga berkurang dan kalau sudah sakit, sudah tidak bisa memperbanyak amal shaleh, padahal bekal hidup di akhirat hanya satu yaitu amal shaleh. Allah mengingatkan dengan firmanNya,

“Belumkah datang waktunya bagi orang yang beriman, untuk khusyuk (tunduk) hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran (Al-Qur’an) yang telah turun kepada mereka?, dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik” (QS. Al-Hadid [57:16)

Orang yang beriman hendaknya segera menata imannya dengan baik, agar bisa segera melakukan ibadah dengan khusyuk, shalat dengan khusyuk, dzikir dengan khusyuk, berdoa dengan khusyuk dan membaca dan mengkaji Al-Qur’an dengan khusyuk.

Allah mengingatkan manusia jangan menjadi seperti umat yang lalu, masa panjang dibiarkan berlalu, sehingga hati menjadi beku, tidak mampu menundukkan hati dengan khusyuk kepada Rabb-nya yang sengaja menciptakan manusia untuk beribadah dengan khusyuk kepada Nya (QS. Adz-Dzaariyat [51]:56)

Umur manusia sangat terbatas, bahkan sungguh sangat singkat sekali. Untuk mengetahui bagaimana singkatnya hidup di dunia ini, baiklah dikemukakan sebagai perbandingan hidup yang telah kita lalui dan yang akan kita alami.

  • Pertama: Kita pernah hidup di alam rahim 9 bulan
  • Kedua Hidup di dunia 70 tahun (itupun kalau sampai, sebab ra- ta-rata umur ummat Muhammad 60 tahun). Dan kesempatan yang sedikit itu kini telah dikurangi dengan usia kita.
  • Ketiga Hidup di alam kubur 500 tahun (sekedar untuk memu- dahkan perbandingan), di mulai dari kematian sampai terjadinya kiamat kubro.
  • Keempat: Di padang mahsyar satu hari lamanya 50.000 tahun.

Firman Allah Ta’ala: Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun. (QS. Al-Ma’arij 70:4).

  • Kelima: Di akhirat, hanya ada dua tempat, surga atau neraka, lamanya tak terjangkau dengan waktu dunia, milyaran tahun, yang akhirnya hanya Allah yang maha tahu.

Rasulullah saw bersabda: Umur umatku antara 60 sampai 70 tahun, sedikit sekali yang melampauinya. (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah. Tafsir lbnu Katsir III/537).

Allah berfirman: Katakanlah: Sesungguhnya kematian yang kamu hindari, sesungguhnya kematian itu akan datang menemuimu. (QS. Jum’ah 62:8). Tiada seorang pun yang tahu, kapan maut itu datang menjemput. Kematian adalah rahasia llahi, hanya Dia-lah semata yang mengetahuinya. Ada yang mati saat masih ada yang sampai tua dan pikun” (QS. Al- Hajj 22:5), namun belum juga ajal datang menjemput. Tetapi “Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapati sekalipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh (QS. An-Nisa’ 4:78)

Sekalipun hidup di dunia sangat singkat, bila dimanfaatkan untuk melakukan berbagai amal kebajikan, maka akan bisa menikmati kebahagiaan yang hakiki dan abadi kelak di akhirat nanti. Demikian pula sebaliknya, bila tidak dimanfaatkan untuk berbuat kebajikan, bahkan dosa dan maksiat yang dilakukannya, maka derita dan sengsara adzab neraka di akhirat telah menanti.

Karena itu Allah menyuruh segera mamanfaatkannya untuk lebih banyak beribadah agar mendapat ampunan Allah (QS. Ali Imran 3:133). Manusia sering menunda-nunda amal kebaikannya, karena itu Allah bertanya kepada manusia: “Belumkah dating waktunya hati orang yang beriman khusyuk berdzikir kepada Allah serta membaca dan mengkaji ayat- ayat Allah yang diturunkan dengan benar. (Al-Hadid 57: 16). Ukuran keberhasilan hidup seseorang tidak ditentukan oleh pangkat dan harta yang dicapainya, tetapi keberhasilan seseorang ditentukan oleh sejauh mana upaya dan usahanya dalam mempertahankan kalimat Tauhid “Lâ ilaha illallah” sepanjang hidupnya, dalam sikap dan ucapan, sampai akhir hayatnya. Itulah Husnul Khotimah, itulah sukses dalam hidup.

Untuk bisa mengakhiri hidup dengan Husnul Khotimah, tentu tidak bisa dicapai begitu saja tanpa usaha sebelumnya. Harus diprogram dan dimanage serta diupayakan sejak awal dalam hidupnya dengan melakukan berbagai amal shalih dengan bimbingan dan ridha Allah.

Kesimpulan:

  • Jangan suka menunda amal ibadah, umur manusia sangat terbatas.
  • Iman segera ditata dengan baik, agar bisa segera melakukan ibadah dengan khusyuk, shalat dengan khusyuk, dzikir dengan khusyuk, berdoa dengan khusyuk dan membaca dan mengkaji Al-Qur’an dengan khusyuk.
  • Hati jangan dibiarkan membeku tanpa dzikir dan ibadah dengan baik.
  • Kematian sering kali datang dengan tiba-tiba.
  • Umur manusia sangat terbatas, rata-rata 60 sampai 70 tahun.

(Sumber: Sahabat Berani dan Peduli Edisi 17 Mei 2016/ Hal 24-27)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *